Perhelatan akbar empat tahunan, Piala Dunia, yang tahun ini digelar di Afrika Selatan telah berakhir dengan melahirkan juara baru, yaitu Spanyol. Selamat buat pendukung setia Spanyol!
Anyway, saya tidak bisa mengikuti satu per satu pertandingan pada PD ini, terutama pertandingan yang berlangsung pada 01.30 dini hari, karena saya harus datang ke kantor cukup pagi. Bahkan, saya melewatkan dua pertandingan penting tim unggulan saya, Jerman, yaitu ketika mencukur Australia 4-0 dan ketika ditekuk Spanyol 0-1.
Biarpun begitu, hambar rasanya bila saya tidak membuat sebuah tulisan pun tentang PD 2010, apalagi tanpa menulis tentang "Die Mannschaft". Sehingga, tulisan ini adalah tulisan pembuka dan terakhir saya untuk PD ini. Oleh karena itu, mohon maklum jika entry kali ini lumayan panjang, karena selain untuk membuka dan menutup entry tentang Piala Dunia, entry ini juga berfungsi untuk menambal kekosongan blog ini yang lama ditinggal hiatus oleh saya.
Tulisan berikut adalah pendapat saya mengenai "Löw Jugend", sebuah istilah untuk merujuk pada tim Jerman yang sangat muda yang disusun oleh Sang Jenderal Joachim Löw.
Jerman masuk turnamen ini dengan kondisi yang meragukan, terutama terkait masalah kiper yang kurang pengalaman (Kahn dan Lehmann sangat dominan di masa lalu), tidak perform-nya punggawa mereka di level klub (mis. Podolski dan Klose yang tidak bermain secara reguler di klub), dan yang paling penting adalah absennya kapten tim panser sekaligus motor utama Jerman; Michael Ballack karena cedera dalam pertandingan final Piala FA menjelang PD dimulai. Dengan banyaknya pemain muda yang diboyong Löw ke Afrika Selatan, kehilangan Ballack sebagai kapten, pengatur serangan, dan inspirator tim sangat terasa.
Löw memutuskan posisi Ballack sebagai kapten diambil alih oleh Phillip Lahm (pilihan mengejutkan, karena Lahm masih lebih muda dan lebih sedikit jam terbangnya dibanding, misalnya, Klose atau Friedrich). Sementara tempat Ballack di lapangan tengah diisi oleh pendatang baru Sami Khedira (bukannya memanggil kembali Torsten Frings ke dalam timnas), dan peran Ballack sebagai motor serangan dan pengatur serangan dipercayakan kepada Bastian Schweinsteiger (sepintas lalu, satu-satunya pilihan yang ?masuk akal? ketika PD dimulai).
Toh, dengan masalah-masalah yang menumpuk seperti itu, Jerman berhasil membuka turnamen dengan sangat baik. Keputusan-keputusan Löw terkait dengan absennya Ballack terbukti mumpuni. Bahkan, Jerman dianggap sebagai penyelamat PD 2010, karena partai-partai awal berlangsung kurang menarik (meskipun melibatkan tim-tim besar seperti Perancis dan Inggris, dengan pengecualian partai Argentina melawan Nigeria) dan miskin gol. Pertandingan pertama Jerman melawan Australia merupakan bagaikan sebuah bisul yang pecah dari para penggemar sepak bola yang ingin menyaksikan tim besar bermain menyerang dan mencetak banyak gol. Meskipun pada pertandingan kedua Jerman ditekuk Serbia 0-1, pasukan muda Löw berhasil menjadi juara grup ketika mereka menundukkan Ghana dengan skor 1-0 melalui gol pemain tengah keturunan Turki, Mesut Özil.
Jerman tampil fantastis di babak-babak berikutnya dengan melumat Inggris 4-1 dan menggilas Argentina yang diperkuat pemain terbaik dunia, Messidonna, empat gol tanpa balas. Sampai di semifinal, Jerman berkesempatan membalaskan dendam kepada tim matador Spanyol atas kekalahan mereka dua tahun lalu di Piala Eropa. Sayangnya, La Furia Roja kembali lebih digdaya dibandingkan Jerman dan gaya sepak bola tiki taka meredam senjata andalan Jerman yaitu blitzkrieg dalam serangan balik. Dalam pertandingan perebutan tempat ketiga yang menegangkan, Jerman berhasil mempertahankan tempat ketiga yang direbut di tanah mereka sendiri pada tahun 2006. Dalam pertarungan yang all-out itu (jauh dari kesan pertandingan para losers yang melekat pada setiap pertandingan perebutan tempat ketiga), Jerman menaklukkan juara dunia dua kali, Uruguay, dengan skor tipis 3-2. Padahal, Jerman tampil dengan banyak pemain lapis kedua. Kiper utama Neuer tidak bermain, Kapten Phillip Lahm dan Lukas Podolski terkena flu dan Miroslav Klose cedera punggung ketika berlatih.
Performa generasi baru sepak bola Jerman ini sungguh menawan hati pendukung mereka baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti saya. Jerman yang pernah memiliki predikat sebagai Panser Tua/Usang/Karatan/apalah karena berintikan pemain tua di Piala Eropa 2000 dan 2004 serta Piala Dunia 1998 dan 2002 telah berhasil melakukan regenerasi yang dilakukan semenjak masa kepemimpinan Jürgen Klinsmann. Löw, yang pada waktu itu adalah asisten pelatih Klinsmann, meneruskan kerja Klinsmann dengan sangat baik.
Pada akhir Piala Eropa 2004, saya pernah ?memberikan? PR kepada Rudi Völler, atau siapapun penggantinya (yang ternyata adalah Klinsmann) mengenai hal-hal yang harus dibenahi agar Tim Panser berjalan mulus lagi. Seingat saya, PR tersebut telah saya review selepas Piala Dunia 2006 ketika Jerman sukses merebut kembali hati banyak penggemarnya yang tadinya mulai cuek dengan timnas mereka. Meski waktu itu saya nyatakan PR telah selesai di tangan Klinsi, tapi masih ada dua hal yang mengganjal, terutama di bagian kiper dan ketergantungan terhadap Ballack. Kini, saya ingin melakukan review lagi, dimulai dengan melakukan review tim inti Jerman dalam Piala Dunia 2010. Harapan Jerman untuk memiliki kiper sekokoh Oliver Kahn sekarang berada di pundak Manuel NEUER. Ini adalah turnamen besarnya yang pertama bersama tim senior, meskipun dia adalah anggota tim Jerman U-21 yang berjaya di Euro 2009. Nampaknya, Löw sadar betul pentingnya regenerasi dalam posisi kiper dan melihat Neuer memiliki kapasitas untuk menjadi kiper masa depan Jerman, karena di sebuah turnamen akbar sekelas Piala Dunia, Löw lebih memercayakan gawang Jerman kepada ?bocah? kelahiran 1986 ini daripada kiper yang lebih berpengalaman, Hans Jörg Butt. Pilihan Löw ini dibayar dengan penampilan Neuer yang tidak mengecewakan. Setidaknya, tidak ada gol konyol yang lahir ke gawangnya yang menyebabkan dirinya harus menyalahkan bola Jabulani. PR tentang regenerasi kiper seperti telah berjalan, meskipun masih terlalu dini untuk menilai hasilnya. Kecuali kalau tiba-tiba Butt menjadi kiper pertama Die National Mannschaft.
Di sektor belakang, Jerman memiliki kuartet Kapten Phillip LAHM, Arne FRIEDRICH, Per MERTESACKER, dan Jerome BOATENG. Kecuali Boateng, semuanya adalah muka lama di timnas Jerman. Hanya saja, Lahm dan Friedrich mengalami perubahan posisi. Di Piala Dunia 2006, Klinsmann lebih banyak memainkan Phillip Lahm di sektor bek kiri dan Arne Friedrich di bek kanan. Penampilan Lahm yang cemerlang di sektor itu pada PD tersebut dalah ?perkenalan? saya dengannya dan sejak itu saya selalu menganggapnya salah satu bek kiri terbaik (yang harus saya beli bila saya bermain di game Football Manager). Menggesernya ke bek kanan memang tidak menjadikan performanya turun, tapi entah kenapa saya tidak melihat Lahm seeksplosif dan segarang dulu ketika dia bermain di kiri.
Sementara Friedrich ternyata membuktikan diri mampu menjadi palang pintu kembar bersama Mertesacker. Mertesacker sudah lebih nyaman berada di posisi ini karena ini adalah posisinya semenjak Jerman masih dilatih oleh Klinsmann. Dulu, dia duetkan dengan Christoph Metzelder. Friedrich dan Mertesacker melakukan tugas dengan baik selama Piala Dunia 2010 ini. Sayangnya, Friedrich yang kelahiran 1979 mungkin harus segera mengakhiri tugasnya bersama timnas Jerman, jika Löw menemukan seorang bek tengah yang lebih muda dan memiliki kualitas dan potensi.
Sedikit kelemahan saya perhatikan ada di posisi bek kiri yang ditempati Boateng, terutama dalam laga versus Inggris dan Argentina. Sering kali serangan lawan-lawan Jerman tersebut lebih mulus dilakukan dari sektor yang dikawal oleh Boateng tersebut, karena dia sering terlambat turun ke posisinya selepas membantu serangan. Sedikit catatan, penampilannya di babak kedua melawan Argentina mengalami perbaikan, sehingga sebenarnya ketika dia digantikan oleh Marcell Jansen saya sudah tidak begitu khawatir dengan ?lubang? yang sering dibuatnya di sektor kiri.
Beranjak ke sektor tengah, lini ini dihuni oleh Sami KHEDIRA dan Bastian SCHWEINSTEIGER di bagian tengah, dengan tiga orang ?penyerang? berjejer di depan mereka, yaitu Thomas MÜLLER, Mesut ÖZIL, dan Lukas PODOLSKI. Khedira berperan sebagai gelandang bertahan di depan empat orang bek, sementara Schweinsteiger (dia enggan dipanggil Schweini lagi karena merasa sudah bukan anak kecil lagi) adalah orang yang bertanggung jawab mengalirkan serangan ke tiga orang di depannya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Khedira adalah pendatang baru sementara Schweinsteiger pada awalnya beroperasi di sayap kanan. Tapi dengan tidak dipanggilnya Frings ditambah dengan absennya Ballack, dia menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi playmaker di tengah.
Sementara itu, perannya di sayap kanan diambil alih dengan fantastis oleh Müller. Seperti Podolski dan Özil, naluri menyerangnya sangat tinggi dan hal tersebut menyebabkan Jerman seperti bermain dengan empat orang striker di depan, karena mereka bertiga bermain tidak benar-benar di lapangan tengah, tapi di belakang penyerang. Lini tengah Jerman yang seperti itu adalah flawless alias tanpa cacat. Ini terlihat dengan tajamnya lini tengah mereka selama Piala Dunia kali ini, terutama Müller. Müller yang sempat dikira ball boy oleh Maradona (dalam pertandingan persahabatan sebelum PD, kalau saya tidak salah) menjadi top skorer Jerman dengan lima gol, mengungguli striker utama mereka, Klose yang mencetak empat gol. Mueller bahkan mendapatkan Golden Boot Award karena mencetak lima gol dan tiga assists, lebih unggul dari David Villa (Spanyol) dan Wesley Sneijder yang masing-masing mencetak lima gol dan satu assist. Mueller juga kemudian dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik selama turnamen.
Kualitas yang ditunjukkan oleh lini tengah Jerman menunjukkan bahwa Jerman bisa tampil sangat baik bahkan tanpa Michael Ballack. Ini menandakan PR untuk melakukan de-Ballack-isasi pun telah dilakukan. Apakah akan bertahan lama? Kita harus menunggu beberapa lama, setidaknya sampai kualifikasi Piala Eropa.
Di depan, Löw mengandalkan Miroslav KLOSE hampir seorang diri. Kenapa hampir? Karena telah disebutkan sebelumnya Jerman sebenarnya bermain dengan empat striker. Podolski pada hakekatnya adalah seorang penyerang. Dan kalau saya tidak salah, begitu juga dengan Müller. Sepertinya hanya Özil yang bertipe sebagai penyerang lubang. Tidak salah memang Löw begitu kepincut dengan performa Klose di tim nasional, meskipun di level klub dia kurang bersinar. Ini terbukti dari berhasilnya Klose mencetak 14 gol selama keikutsertaannya di Piala Dunia (tiga kali: 2010, 2006, 2002) atau menyamai bomber legendaris Jerman, Gerd Müller. Sayangnya, cedera punggung sebelum melawan Uruguay menghentikannya dari menyamai rekor Ronaldo sebanyak 15 gol. Padahal, dengan ketajamannya dan dukungan dari tengah yang bisa diandalkan, terbuka kemungkinan untuk itu bahkan melebihi Ronaldo. Sialnya lagi, ini mungkin adalah Piala Dunianya yang terakhir. Tough luck, Klose!
Kesuksesan kampanye Jerman di Afika Selatan, terutama telah hilangnya ketergantungan Jerman akan Ballack, menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Di manakah Ballack akan bermain setelah ini? Dan siapakah kapten Tim Panzer selepas Piala Dunia? Kembalinya Ballack ke lini tengah Jerman bisa jadi mengacaukan performa lini tersebut, karena akan ada dua ?raja? di sana, yaitu Schweinsteiger dan Ballack. Adanya dua ?raja? mengingatkan kita pada timnas Inggris yang memiliki Lampard dan Gerrard di sektor tengah mereka. Sampai sekarang, misteri Lampard dan Gerrard masih belum terpecahkan.
Mengembalikan Schweinsteiger ke kanan rasanya keterlaluan, mengingat menonjolnya perannya di sektor tengah dan betapa menawannya Müller di kanan selama Piala Dunia. Sementara itu, Lahm telah menjalankan tugas sebagai kapten Panzer dengan sangat baik. Dia menikmati mengemban tanggung jawab itu dengan menyatakan ingin terus menjadi kapten, bahkan setelah Ballack kembali. ?Kudeta? ini harus bisa diantisipasi oleh Löw, jika tidak ingin timnya terpecah belah seperti Prancis (meskipun dengan kasus yang berbeda).
Atau, Löw bisa memilih mengikuti jejak pelatih Spanyol, Vincente Del Bosque yang meninggalkan Raul Gonzales, anak emas persepakbolaan Spanyol, di Piala Eropa 2008. Tanpa anak emasnya, Spanyol berhasil menjadi juara Eropa dan akhirnya kritik tentang tidak dibawanya Raul reda sendiri. Tegakah Löw tidak memanggil Ballack? Bagaimana mengatasi ?Dilema Ballack? ini?
Ini adalah PR terbaru untuk pelatih Jerman, yang mudah-mudahan akan tetap dipegang oleh Joachim Löw beserta timnya, untuk bisa dipecahkan. Karena Jerman benar-benar memiliki ?permata? yang siap bersinar, hanya tergantung bagaimana Löw memolesnya.